Latest Tweets:
A.A.M. - Stereoscopic
Narsis, atau dalam ilmu psikologi disebut “Narcissistic Behavior” merupakan salah satu gangguan sindrom kepribadian (kumpulan sifat dan gejala perilaku spesifik yang membentuk kepribadian seseorang). Istilah ini diambil dari nama tokoh mitologi Yunani “Narcissus,” yang dikisahkan sebagai pria yang sangat tampan, sehingga membuat Dewa Apollo sampai jatuh cinta (Yep, Apollo is a Gay God!) hingga akhirnya Narcissus jatuh cinta dengan pantulan dirinya sendiri di sebuah danau, dan terus mengaguminya hingga akhirnya ia berubah wujud menjadi bunga Narcissus.
Banyak dari kita yang sudah biasa mendengar kata narsis dalam hidup sehari-hari, tapi apakah sebenarnya narsis itu? Apakah orang yang suka berfoto (sambil monyongin bibir dari angle tampak atas) dikatakan narsis? Atau apakah saya sendiri yang membuat tulisan di blog ini juga dikategorikan narsis? Hehehe…
Sebenarnya contoh di atas adalah salah satu contoh kecil dari perilaku individu dengan kepribadian narsisistik. Tapi sebenarnya untuk mengkategorikan apakah seseorang itu mengidap sindrom narsisistik setidaknya paling sedikit harus memiliki 3 dari tanda-tanda berikut ini:
1. Mengharapkan agar orang lain memuji dan menghormati dirinya, hasil kerjanya, atau apa yang ia miliki walaupun pada kenyataannya hal yang ia miliki tersebut bukanlah suatu hal yang luar biasa.
2. Memiliki kebanggaan berlebihan dan perasaan “grandeur” atau kebesaran bahwa dirinya memiliki hubungan dengan tokoh-tokoh yang terkenal. Contohnya selalu mengatakan bahwa dirinya adalah kerabat dari Presiden, atau mengaku sebagai sahabat artis terkenal dalam setiap kesempatan. Namun seringnya hal tersebut merupakan hasil karangan agar orang lain merasa kagum dengan dirinya.
3. Bisa bersifat manipulatif dan menghalalkan segala cara agar orang lain merasa kagum dengan dirinya. Misalnya dengan mengklaim karya orang lain sebagai hasil karya sendiri yang kemudian dibanggakannya kepada orang lain.
4. Merasa tidak rela dan tidak senang jika orang lain memiliki kelebihan dari dirinya (iri hati), dan berusaha keras untuk melebihi orang tersebut.
5. Menyukai gaya hidup yang mewah, dan selalu mengikuti trend walaupun sebenarnya diluar batas kemampuannya. Hal ini dilakukan agar dirinya dipandang “lebih” dari orang lain.
6. Haus akan perhatian dari orang-orang sekitarnya (self-centered), dan berusaha agar orang lain mau melakukan apa yang ia inginkan.
7. Sangat sensitif dan sangat tidak suka jika dikritik oleh orang lain, dan akan membalasnya secara kasar. Jika dikritik, maka pikiran mereka akan selalu dibayangi oleh kritikan tersebut. Membuat mereka merasa sangat dipermalukan dan down.
8. Merasa dirinya lebih superior daripada orang lain, baik dalam hal kepandaian, kekayaan, maupun gaya hidup. Padahal sebenarnya tidak.
9. Memiliki rasa penolakan (rasa gengsi) yang tinggi terhadap hal-hal yang dianggap di bawah standar yang ditentukannya.
10. Merasa bahwa dirinya adalah orang yang sangat penting yang harus dilibatkan dalam kehidupan orang lain, serta kurangnya empati (kepekaan) terhadap orang lain.
11. Memiliki rasa percaya diri yang berlebihan dan terkesan arogan terhadap lingkungan sekitarnya.
12. Kebanyakan individu dengan kepribadian narsisistik adalah individu yang ambisius, kurang peduli dengan keadaan sekitarnya/orang lain, sangat kompetitif, dan terkadang suka mencari perhatian.
Dari ke-12 karakteristik di atas, dapat disimpulkan bahwa individu dengan kepribadian narsisistik adalah individu yang “gila hormat,” egois, selalu ingin dinomorsatukan, selalu ingin menjadi pusat perhatian, dan berusaha keras agar orang lain mengagumi dan “terkesan” dengan dirinya.
Perlu diketahui bahwa sebenarnya dibalik penampilan mereka yang sangat percaya diri dan terkesan “perfect,” tersembunyi harga diri (self-esteem) dan konsep diri (self-concept) yang rendah dan rapuh yang terbentuk oleh pengalaman masa lalu. Hal inilah yang menyebabkan mereka mencari kompensasi dengan menonjolkan diri secara berlebihan dengan tujuan agar diterima, dihormati, dan selalu diperhatikan oleh lingkungan.
Mereka tidak menyadari bahwa perilakunya tersebut sudah mengganggu dan merepotkan orang lain secara terus-menerus, karena ego mereka sudah merasa nyaman. Itu sebabnya mereka sangat senang dengan lingkungan yang berisi orang-orang yang menurut mereka bisa “dikendalikan” dan membuat mereka “aman” untuk berkompetisi di dalamnya. Dan itu pula sebabnya mereka sangat tidak suka dikritik, karena mereka menganggap diri mereka superior dibandingkan orang lain.
Menurut jurnal penelitian American Psychological Association (APA), gangguan kepribadian narsisistik ditemukan sebanyak 1% dari suatu populasi, dan lebih banyak ditemukan pada pria daripada wanita. Tapi kalo menurut gue, sih… Kayaknya lebih banyak… :p
Banyak yang tidak tahu, atau lebih tepatnya dikelabui oleh hal-hal “instant” yang diciptakan oleh industri materialisme & media di dunia ini. Semua mencari kebenaran (dan pembenaran) atas dasar generalisasi indivual/kelompok sendiri, tanpa adanya pengkajian yang memadai dan tanpa adanya perbandingan lebih jauh terhadap aspek lainnya. Akhirnya banyak yang terjebak pada pemikiran sempit - pandangan yang terbatas dalam penilaian “face validity,” atau penilaian yang tampak di permukaannya saja. Hal inilah yang menjadi dasar dari pemikiran “instant.” Semua orang bebas berekspresi apapun yang ada dalam pikirannya secara langsung dan blak-blakan, masalah efeknya itu urusan belakangan.
Dampak media & industri lainnya telah sedemikian jauh mempengaruhi pola pikir kita. Jika dulu kita lebih sering memperoleh informasi atau transfer ilmu secara “aktif” dari individu lain atau melalui media “fixed contents” seperti TV, radio dan media cetak. Sekarang dengan semakin tingginya tingkat penetrasi media informasi massal tanpa batas seperti internet di masyarakat, kita bebas mencari informasi apapun yang kita mau. Kita mencari dan memperoleh informasi yang mendukung opini dan ide yang telah ada sebelumnya dalam pikiran kita. Media massa tersebut menjadi sarana “reinforcement” bagi pemikiran awal yang sudah ditanamkan lingkungan kepada kita, yang ironisnya justru sudah ditanamkan oleh media massa tersebut. Pasti sejak kecil kita sudah menonton TV, bukan?
Selain itu, paparan & teknik publikasi dari media membuat apa yang tabu menjadi informatif. Berita negatif dari subjek pemberitaan tersebut dijadikan refleksi bagi diri sendiri dan penghayatan bagi ego dan superego untuk diinternalisasikan sebagai “panduan” dalam menghadapi kondisi yang sama - untuk ikut mengalami dan merasakan kondisi tersebut tanpa perlu terpengaruh dengan proses dan efeknya. Inilah bentuk post-humanisme di jaman modern. Individu merasa “dimanusiakan” jika turut mengalami kondisi positif maupun negatif individu lainnya - menganggapnya sebagai hal yang sangat manusiawi dan juga bisa terjadi pada dirinya sendiri.
Bentuk lain dari eksistensi individu di dunia seharusnya dirasakan dengan ikut mengalami eksistensi manusia lainnya. Namun yang terjadi justru pengalaman-pengalaman dari individu-individu tersebut kemudian dikonsumsi mentah-mentah oleh individu lainnya sebagai suatu hal yang manusiawi dan bisa terjadi pada dirinya, sehingga mengaburkan batas antara apa yang patut dan apa yang tidak patut “dicerna.” Norma dan peraturan justru menjadi ajang “reality testing” untuk diuji, dikonfrontir dengan pandangan mereka, dan dipertanyakan kembali apakah masih relevan atau tidak untuk menjawab kondisi yang ada.
Kondisi alamiah manusia untuk ingin mengetahui lebih banyak lagi turut mendorong munculnya individu-individu yang merasa “mampu” untuk memberikan solusi atau sekedar untuk menampilkan eksistensi mereka. Baik secara sengaja atau tidak sengaja, dan dengan alasan kebebasan berekspresi, mereka menyampaikan pendapat dan eksistensinya secara instan. Terkadang terkesan hipokrit demi menjawab atau memunculkan isu-isu ke ranah publik, disebabkan oleh tuntutan masyarakat yang juga menginginkan penjelasan atau jawaban atas isu tersebut secara instant.
Bentuk nyata dari kebebasan berekspresi yang dilandasi post-humanisme ini banyak ditemui dalam media kita. Acara-acara gosip, berita-berita negatif seperti pembunuhan, berita bencana, reality show, ajang pencarian bakat “instan,” yang semuanya dipaparkan secara detail dan terkadang didramatisir secara berlebihan.
Tidak hanya dalam dunia hiburan, dunia politik juga ikut terkena imbas. Banyaknya “politisi-politisi karbitan” dan isu-isu politik yang berkembang adalah bentuk cerminan bagaimana terpacunya seorang individu/kelompok agar diakui eksistensinya dengan menggunakan “kendaraan” partai atau “menumpang” pada isu-isu politik yang ada, bahkan sengaja dimunculkan - Istilah jargonnya “numpang beken.” Media di sini berperan bagaikan steroid yang memacu “pertumbuhan” eksitensi mereka.
Hal yang membahayakan adalah; kita tidak mengetahui sejauh mana cara-cara yang ditempuh segelintir individu-individu ini dalam usahanya untuk “tampil eksis” akan berimbas dan mempengaruhi sikap masyarakat. Akibatnya akan muncul “mass reinforcement” atau penguatan massal oleh media massa, mengarah kepada”mass brain-washed” atau “cuci otak massal.” Imunitas dari sikap yang telah terbentuk dalam masyarakat digempur habis-habisan oleh media sedemikan rupa, dan sedikit-sedikit terjadi pergesaran sikap dan nilai.
Lihat saja, yang dulunya masyarakat kita merasa malu jika aibnya diketahui orang, sekarang malah tidak segan-segan menunjukkannya di TV dengan dalih realita hidup atau fenomena sosial yang bisa dijadikan pembelajaran bagi pemirsanya. Benarkah? Benar, jika Anda mampu membedakan apa yang patut dan apa yang tidak. Aib saja sudah merupakan suatu kesalahan, apakah pantas untuk menjadi pengamat atas kesalahan orang yang mempertontonkan aibnya sendiri?
Terlepas apakah acara reality show itu benar atau hasil dari skenario belaka, tetap saja bahwa pembelajaran yang terbaik adalah belajar dari kesalahan yang kita alami sendiri.
Kasus lain yang menarik yaitu seperti kasus karikatur Nabi Muhammad. Berdalih kebebasan berekspresi, mereka dengan merasa tidak bersalah dan sengaja telah melukai hati umat Muslim di seluruh dunia. Bagaimana mungkin kebebasan berekspresi dijadikan tameng untuk pembenaran diri yang dapat menyinggung pihak lain? Sama seperti saya menghina Orangtua Anda, lalu dengan gampangnya mengatakan, “Itu pendapat saya tentang Orangtuamu, saya bebas mengatakan apa saja.” Sedemikian tumpulkah akal dan perasaan orang-orang sekarang?
Jadi menurut saya; kebebasan berekspresi adalah cara untuk “tampil eksis” secara instant tanpa mempedulikan eksistensi pihak lain. Ini adalah bentuk dorongan primitif yang bersifat agresif dan ekpansif dalam mempertahankan eksitensinya, yang berkedok persamaan (equality) dan dibumbui semangat humanistik yang salah kaprah.
Pesan saya; bijaklah dalam berpendapat, jangan memunuculkan isu atau pendapat sebelum Anda mengetahui implikasinya bagi eksistensi pihak lain. Maka dari itu, carilah informasi sebanyak mungkin melalui sumber yang terpercaya dan lakukan perbandingan dengan sumber lainnya. Andalkan logika dan hati nurani Anda, jangan terjebak pada generalisasi dan stereotype maupun stigma sosial. Dan yang terakhir: Matikan TV Anda. Itu racun bagi hati nurani dan akal sehat Anda.
Kita berhubungan karena kita saling membutuhkan dengan orang lain, yang membedakan cuma motifnya. Hubungan itu untuk saling bertukar/berbagi tujuan (Social Exchange Theory). Jika hubungan tersebut saling menguntungkan maka hubungan itu positif, jika hubungan berbeda dalam tujuan, itulah yang disebut hubungan konflik (negatif).
Hubungan pertemanan, pacaran, termasuk dalam kebutuhan mencintai & memiliki suatu objek. Kenapa objek? Karena hubungan cinta tidak hanya pada manusia/hewan (hal konkrit), bisa juga abstrak: cinta kepada Tuhan, dll.
Kalo ada yang bilang, “Cinta itu tidak harus memiliki.” Berarti hubungan cinta dia harus dipertanyakan, apakah dia mencintai objek cinta yang nyata (dianggap ada eksistensinya dan bisa dirasakan) atau dia menganggap objek cintanya itu bukan hal yang nyata/tidak bisa dirasakan. Bukan hal yang penting baginya untuk memikirkan apakah objek cintanya tadi juga merasa diuntungkan dalam hubungan mereka. Orang-orang seperti ini adalah orang yang egois yang mementingkan kesenangannya sendiri.
Nah, kalo hubungan 2 orang cowok/cewek yang sesama jenis menurut gue tetap bertujuan, yaitu untuk saling mencintai & melengkapi kekurangan kita, karena tidak akan ada pertukaran & terjadi hubungan jika kita tidak “butuh” sesuatu dari orang lain (terlepas dari motif di belakangnya, misal: harta, status, image, dll).
Yang membedakan pastinya konteks tujuan akhir yang berhubungan secara biologis & normatif, yaitu laki-laki & perempuan diharuskan menikah & berhubungan seks untuk menghasilkan keturunan secara alamiah (walaupun dengan kecanggihan medis sekarang seorang pria/wanita bisa menghasilkan bayi tanpa proses kopulasi). Jadi sekarang konsep “perkawinan” itu sudah bergeser, dan mempengaruhi cara hidup orang-orang non-tradisional, contoh terkenal: Ricky Martin.
Menurut gue perbedaannya hanya terletak dari tujuannya. Dalam hal ini, menikah pada heteroseksual tujuannya adalah untuk meneruskan keturunan & menjaga aliran darah/silsilah keluarga, sedangkan motifnya tetap sama dengan homoseksual, yaitu untuk saling membahagiakan pasangannya. Di Kanada, homoseksual boleh menikah & berkeluarga serta mengadopsi anak. Jadi sekali lagi konsep tradisional mengenai apa itu “keluarga” sudah berubah, yang dulunya terdiri dari ayah, ibu, dan anak (keluarga inti) sekarang bisa menjadi 2 orang ayah/2 orang ibu dengan anaknya.
Jadi pasangan Anda (baik heteroseksual/homoseksual) adalah “kendaraan” bagi Anda dalam mencapai kebahagiaan, walaupun gak ada hubungan yang abadi (hanya terletak pada masalah waktu & penyebab berakhirnya hubungan tersebut), namun semua orang berhak untuk bahagia & mencintai.
Demikianlah kuliah Psikologi Gender dari saya untuk hari ini. Hahahaha… ☺
"Optimists are persons without much experience."
We live on a mountain
Right at the top
There’s a beautiful view
From the top of the mountain
Every morning I walk towards the edge
And throw little things off
Like:
Car parts, bottles and cutlery
Or whatever I find lying around
It’s become a habit
A way
To start the day
I go through all this
Before you wake up
So I can feel happier
To be safe up here with you
It’s early morning
No one is awake
I’m back at my cliff
Still throwing things off
I listen to the sounds they make
On their way down
I follow with my eyes ‘til they crash
Imagine what my body would sound like
Slamming against those rocks
When it lands
Will my eyes
Be closed or open?
I go through all this
Before you wake up
So I can feel happier
To be safe up here with you
Temen gue ngirim voice note via BBM. Bencong kok teriak bencong!?
"If it’s hard to do, then it’s not worth to try."
This is a Wartegg Personality Test. From these 8 pictures in 8 boxes, you can see the personality, needs, interpersonal life, relations with family members, conflicts, sexual orientation, etc. But I won’t tell you its interpretations. These pictures won’t mean anything even if you copied and replicated on your testing (perhaps) which you will going to attend. Because the Wartegg Personality Test is usually never stands alone to be used as a single test. It always given along with another test(s) as a comparative and supportive tool to your results from another test(s). So it completes by each other. Even if you drew the pictures exactly like I did on this picture, if the results didn’t match with the results from other test(s), it will be considered as a faking, not the true aspects, or perhaps a replication due to rehearsal process.