Latest Tweets:
Kita berhubungan karena kita saling membutuhkan dengan orang lain, yang membedakan cuma motifnya. Hubungan itu untuk saling bertukar/berbagi tujuan (Social Exchange Theory). Jika hubungan tersebut saling menguntungkan maka hubungan itu positif, jika hubungan berbeda dalam tujuan, itulah yang disebut hubungan konflik (negatif).
Hubungan pertemanan, pacaran, termasuk dalam kebutuhan mencintai & memiliki suatu objek. Kenapa objek? Karena hubungan cinta tidak hanya pada manusia/hewan (hal konkrit), bisa juga abstrak: cinta kepada Tuhan, dll.
Kalo ada yang bilang, “Cinta itu tidak harus memiliki.” Berarti hubungan cinta dia harus dipertanyakan, apakah dia mencintai objek cinta yang nyata (dianggap ada eksistensinya dan bisa dirasakan) atau dia menganggap objek cintanya itu bukan hal yang nyata/tidak bisa dirasakan. Bukan hal yang penting baginya untuk memikirkan apakah objek cintanya tadi juga merasa diuntungkan dalam hubungan mereka. Orang-orang seperti ini adalah orang yang egois yang mementingkan kesenangannya sendiri.
Nah, kalo hubungan 2 orang cowok/cewek yang sesama jenis menurut gue tetap bertujuan, yaitu untuk saling mencintai & melengkapi kekurangan kita, karena tidak akan ada pertukaran & terjadi hubungan jika kita tidak “butuh” sesuatu dari orang lain (terlepas dari motif di belakangnya, misal: harta, status, image, dll).
Yang membedakan pastinya konteks tujuan akhir yang berhubungan secara biologis & normatif, yaitu laki-laki & perempuan diharuskan menikah & berhubungan seks untuk menghasilkan keturunan secara alamiah (walaupun dengan kecanggihan medis sekarang seorang pria/wanita bisa menghasilkan bayi tanpa proses kopulasi). Jadi sekarang konsep “perkawinan” itu sudah bergeser, dan mempengaruhi cara hidup orang-orang non-tradisional, contoh terkenal: Ricky Martin.
Menurut gue perbedaannya hanya terletak dari tujuannya. Dalam hal ini, menikah pada heteroseksual tujuannya adalah untuk meneruskan keturunan & menjaga aliran darah/silsilah keluarga, sedangkan motifnya tetap sama dengan homoseksual, yaitu untuk saling membahagiakan pasangannya. Di Kanada, homoseksual boleh menikah & berkeluarga serta mengadopsi anak. Jadi sekali lagi konsep tradisional mengenai apa itu “keluarga” sudah berubah, yang dulunya terdiri dari ayah, ibu, dan anak (keluarga inti) sekarang bisa menjadi 2 orang ayah/2 orang ibu dengan anaknya.
Jadi pasangan Anda (baik heteroseksual/homoseksual) adalah “kendaraan” bagi Anda dalam mencapai kebahagiaan, walaupun gak ada hubungan yang abadi (hanya terletak pada masalah waktu & penyebab berakhirnya hubungan tersebut), namun semua orang berhak untuk bahagia & mencintai.
Demikianlah kuliah Psikologi Gender dari saya untuk hari ini. Hahahaha… ☺