Latest Tweets:

Kebebasan Berekspresi?

Banyak yang tidak tahu, atau lebih tepatnya dikelabui oleh hal-hal “instant” yang diciptakan oleh industri materialisme & media di dunia ini. Semua mencari kebenaran (dan pembenaran) atas dasar generalisasi indivual/kelompok sendiri, tanpa adanya pengkajian yang memadai dan tanpa adanya perbandingan lebih jauh terhadap aspek lainnya. Akhirnya banyak yang terjebak pada pemikiran sempit - pandangan yang terbatas dalam penilaian “face validity,” atau penilaian yang tampak di permukaannya saja. Hal inilah yang menjadi dasar dari pemikiran “instant.” Semua orang bebas berekspresi apapun yang ada dalam pikirannya secara langsung dan blak-blakan, masalah efeknya itu urusan belakangan.

Dampak media & industri lainnya telah sedemikian jauh mempengaruhi pola pikir kita. Jika dulu kita lebih sering memperoleh informasi atau transfer ilmu secara “aktif” dari individu lain atau melalui media “fixed contents” seperti TV, radio dan media cetak. Sekarang dengan semakin tingginya tingkat penetrasi media informasi massal tanpa batas seperti internet di masyarakat, kita bebas mencari informasi apapun yang kita mau. Kita mencari dan memperoleh informasi yang mendukung opini dan ide yang telah ada sebelumnya dalam pikiran kita. Media massa tersebut menjadi sarana “reinforcement” bagi pemikiran awal yang sudah ditanamkan lingkungan kepada kita, yang ironisnya justru sudah ditanamkan oleh media massa tersebut. Pasti sejak kecil kita sudah menonton TV, bukan?

Selain itu, paparan & teknik publikasi dari media membuat apa yang tabu menjadi informatif. Berita negatif dari subjek pemberitaan tersebut dijadikan refleksi bagi diri sendiri dan penghayatan bagi ego dan superego untuk diinternalisasikan sebagai “panduan” dalam menghadapi kondisi yang sama - untuk ikut mengalami dan merasakan kondisi tersebut tanpa perlu terpengaruh dengan proses dan efeknya. Inilah bentuk post-humanisme di jaman modern. Individu merasa “dimanusiakan” jika turut mengalami kondisi positif maupun negatif individu lainnya - menganggapnya sebagai hal yang sangat manusiawi dan juga bisa terjadi pada dirinya sendiri.

Bentuk lain dari eksistensi individu di dunia seharusnya dirasakan dengan ikut mengalami eksistensi manusia lainnya. Namun yang terjadi justru pengalaman-pengalaman dari individu-individu tersebut kemudian dikonsumsi mentah-mentah oleh individu lainnya sebagai suatu hal yang manusiawi dan bisa terjadi pada dirinya, sehingga mengaburkan batas antara apa yang patut dan apa yang tidak patut “dicerna.” Norma dan peraturan justru menjadi ajang “reality testing” untuk diuji, dikonfrontir dengan pandangan mereka, dan dipertanyakan kembali apakah masih relevan atau tidak untuk menjawab kondisi yang ada.

Kondisi alamiah manusia untuk ingin mengetahui lebih banyak lagi turut mendorong munculnya individu-individu yang merasa “mampu” untuk memberikan solusi atau sekedar untuk menampilkan eksistensi mereka. Baik secara sengaja atau tidak sengaja, dan dengan alasan kebebasan berekspresi, mereka menyampaikan pendapat dan eksistensinya secara instan. Terkadang terkesan hipokrit demi menjawab atau memunculkan isu-isu ke ranah publik, disebabkan oleh tuntutan masyarakat yang juga menginginkan penjelasan atau jawaban atas isu tersebut secara instant.

Bentuk nyata dari kebebasan berekspresi yang dilandasi post-humanisme ini banyak ditemui dalam media kita. Acara-acara gosip, berita-berita negatif seperti pembunuhan, berita bencana, reality show, ajang pencarian bakat “instan,” yang semuanya dipaparkan secara detail dan terkadang didramatisir secara berlebihan.

Tidak hanya dalam dunia hiburan, dunia politik juga ikut terkena imbas. Banyaknya “politisi-politisi karbitan” dan isu-isu politik yang berkembang adalah bentuk cerminan bagaimana terpacunya seorang individu/kelompok agar diakui eksistensinya dengan menggunakan “kendaraan” partai atau “menumpang” pada isu-isu politik yang ada, bahkan sengaja dimunculkan - Istilah jargonnya “numpang beken.” Media di sini berperan bagaikan steroid yang memacu “pertumbuhan” eksitensi mereka.

Hal yang membahayakan adalah; kita tidak mengetahui sejauh mana cara-cara yang ditempuh segelintir individu-individu ini dalam usahanya untuk “tampil eksis” akan berimbas dan mempengaruhi sikap masyarakat. Akibatnya akan muncul “mass reinforcement” atau penguatan massal oleh media massa, mengarah kepada”mass brain-washed” atau “cuci otak massal.” Imunitas dari sikap yang telah terbentuk dalam masyarakat digempur habis-habisan oleh media sedemikan rupa, dan sedikit-sedikit terjadi pergesaran sikap dan nilai.

Lihat saja, yang dulunya masyarakat kita merasa malu jika aibnya diketahui orang, sekarang malah tidak segan-segan menunjukkannya di TV dengan dalih realita hidup atau fenomena sosial yang bisa dijadikan pembelajaran bagi pemirsanya. Benarkah? Benar, jika Anda mampu membedakan apa yang patut dan apa yang tidak. Aib saja sudah merupakan suatu kesalahan, apakah pantas untuk menjadi pengamat atas kesalahan orang yang mempertontonkan aibnya sendiri?

Terlepas apakah acara reality show itu benar atau hasil dari skenario belaka, tetap saja bahwa pembelajaran yang terbaik adalah belajar dari kesalahan yang kita alami sendiri.

Kasus lain yang menarik yaitu seperti kasus karikatur Nabi Muhammad. Berdalih kebebasan berekspresi, mereka dengan merasa tidak bersalah dan sengaja telah melukai hati umat Muslim di seluruh dunia. Bagaimana mungkin kebebasan berekspresi dijadikan tameng untuk pembenaran diri yang dapat menyinggung pihak lain? Sama seperti saya menghina Orangtua Anda, lalu dengan gampangnya mengatakan, “Itu pendapat saya tentang Orangtuamu, saya bebas mengatakan apa saja.” Sedemikian tumpulkah akal dan perasaan orang-orang sekarang?

Jadi menurut saya; kebebasan berekspresi adalah cara untuk “tampil eksis” secara instant tanpa mempedulikan eksistensi pihak lain. Ini adalah bentuk dorongan primitif yang bersifat agresif dan ekpansif dalam mempertahankan eksitensinya, yang berkedok persamaan (equality) dan dibumbui semangat humanistik yang salah kaprah.

Pesan saya; bijaklah dalam berpendapat, jangan memunuculkan isu atau pendapat sebelum Anda mengetahui implikasinya bagi eksistensi pihak lain. Maka dari itu, carilah informasi sebanyak mungkin melalui sumber yang terpercaya dan lakukan perbandingan dengan sumber lainnya. Andalkan logika dan hati nurani Anda, jangan terjebak pada generalisasi dan stereotype maupun stigma sosial. Dan yang terakhir: Matikan TV Anda. Itu racun bagi hati nurani dan akal sehat Anda.

  1. amphibian posted this